Perguruan Pencak
Silat Beladiri tangan Kosong (BETAKO) Merpati putih merupakan warisan budaya
peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang pada awalnya merupakan ilmu
beladiri rahasia keraton yang diwariskan secara turun menurun, sehingga rakyat
jelata tidak diperbolehkan untuk mempelajari. Konon Pangeran Diponogoro pernah
diwarisi ilmu ini. Namun pada akhirnya atas wasiat Sang Guru (Saring Hadi
Poernomo grat X) ilmu Merpati Putih diperkenankan disebarluaskan dengan maksud
untuk ditumbuh kembangkan agar berguna bagi bangsa dan negara.
Awalnya
aliran ini dimiliki oleh Sampeyan Dalem Inkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan
Pangeran Prabu Mangkurat Ingkang Jumeneng Ing Kartosuro atau yang lebih dikenal
dengan sebutan Pangeran Prabu Amangkurat II atau Sunan Tegal Wangi atau Sunan
Tegal Arum kemudian ke BPH Adiwidjojo (Grat I). Karena kondisi yang ditimbulkan
oleh penjajah Kolonial Belanda pada saat itu, Pangeran Prabu Amangkurat II
mengadakan pengungsian didaerah Bagelen (wilayah terpencil di Yogyakarta).
Bersama cicit perempuannya yaitu R.A. Nyi Djojo Redjoso (Grat III). Disela-sela
kesibukkannya dalam memikirkan, mengatur situasi kenegaraan (kerajaan) beliau
sempat membimbing, menggembleng serta mengawasi cicitnya dalam menekuni ilmu
beladiri.
Kemudian
R.A Nyi Djojo Redjoso dikaruniai 3 orang anak laki-laki, mereka adalah Gagak
Seto, Gagak Handoko dan Gagak Samudro. Kepada dan lewat ketiga putranya inilah
ilmu bela diri diwariskan. Gagak Samudro diwariskan ilmu pengobatan, sedangkan
Gagak Seto ilmu Sastra. Dan untuk seni beladiri diturunkan kepada Gagak
Handoko.
Konon
karena kondisi saat itu, 3 saudara ini tercerai berai karena kondisi penjajahan
kolonial pada saat itu. Kabarnya Raden Gagak Seto melarikan diri kearah timur
dan Raden Gagak Samudro lari kearah barat sedangkan Raden Gagak Handoko masih
tetap berdomisili di daerah Yogyakarta. Semasa pelariannya mereka mendirikan
perguruan yaitu :
Gagak Samodra,
mendirikan perguruan di Gunung Jeruk (Peg. Menoreh)
Gagak Handoko,
mendirikan perguruan di daerah Bagelen, yang akhirnya pindah ke daerah utara P.
Jawa.
Gagak Seto,
mendirikan perguruan di daerah sekitar Magelang (Jawa Bagian Tengah).
Lewat Raden Gagak
Handoko inilah garis sejarah warisan Ilmu (sekarang kita kenal sebagai “Merpati
Putih” tidak terputus. Namun Gagak Handoko mengerti
bahwa
ajaran perguruan tersebut sebenarnya kurang lengkap, maka beliau tidak segera
mengembangkan / menurunkan kepada keturunannya, akan tetapi berusaha keras
menelaah dan menjabarkan ilmu tersebut lalu menuangkan dalam gerakan silat dan
tenaga tersimpan yang ada di naluri suci. Tidak berhenti di situ saja, beliau
juga berusaha mencari kelengkapannya, yaitu dari aliran Gagak Samodra dan Gagak
seto. Akan tetapi beliau belum berhasil menemukan langsung, hanya naluri beliau,
bahwa dua aliran yang punya materi sama tersebut mengembangkan ilmu di daerah
pantai utara P. Jawa dan bagian tengah P. Jawa
Konon suatu ketika
Gagak Handoko pergi mengembara di daerah timur Pulau Jawa melalui / menyelusuri
Pantai Selatan hingga sampai di daerah Gunung kelud dengan tujuan mempelajari
dan mengetahui keadaan daerah, disamping itu juga mencari dua saudaranya yang
terpisah. Di dalam pengembaraannya, beliau menyamar sebagai Ki Bagus Kerto.
Sebelum beliau
mengembara, Perguruan Gagak Handoko yang didirikan di Gunung Jeruk telah
berkembang dengan cepat. Dan sepulang dari pengembaraannya, dimana beliau tidak
berhasil menemukan dua saudaranya, maka beliau melanjutkan pengembangan
perguruan yang telah lama ditinggalkan.
Beliau sadar akan
usia ketuaannya yang tidak sanggup lagi melanjutkan pengembangannya, maka
beliau memberi mandat penuh dan amanat kepada keturunannya yang pada silsilah
termasuk dalam Grat V, yaitu R. Bongso permono ing Ngulakan Wates, untuk
melanjutkan perkembangan perguruan. Dan setelah Gagak Handoko menyerahkan
tumpuk kepemimpinan perguruan beliau lalu pergi menyepi/bertapa hingga sampai
meninggalnya di Gunung Jeruk.
Dalam kepemimpinan R.
Bongso Permono, perkembangan perguruan semakin suram/mundur, R. bongso Permono
sadar akan keadaan itu. Maka setelah menurunkan ilmunya kepada keturunannya,
beliau mengikuti jejak ayahnya mencari kesempurnaan. Keturunannya itu bernama
R.M. Wongso Widjojo.
Pada masa kepemimpinan R.M. Wongso Widjojo,
perguruan juga tidak dapat berkembang seperti yang diharapkan ayahnya, oleh
karena tidak mempunyai keturunan, maka beliau mengambil murid yang kebetulan
dalam keluarga masih ada hubungan cucu yang bernama R. Saring Siswo Hadi
Poernomo. Yang selanjutnya masuk dalam garis keturunan ke VII (Grat VIII).
Berikut Silsilah
Turunan aliran PPS Betako Merpati Putih:
· BPH ADIWIDJOJO:
Grat-I
· PH SINGOSARI: Grat-II
· R Ay DJOJOREDJOSO:
Grat-III
· GAGAK HANDOKO:
Grat-IV
· RM REKSO WIDJOJO:
Grat-V
· R BONGSO DJOJO:
Grat-VI
· DJO PREMONO: Grat-VII
· RM WONGSO DJOJO:
Grat-VIII
· KROMO MENGGOLO:
Grat-IX
· SARING HADI POERNOMO:
Grat-X
· POERWOTO HADI
POERNOMO dan BUDI SANTOSO HADI POERNOMO: Grat-XI